Skip to main content

Blog entry by Hasan Basri

Gen Z Bisa Punya Rumah! Rahasia Bangun Tanpa Cicilan

Gen Z Bisa Punya Rumah! Rahasia Bangun Tanpa Cicilan

Bagi generasi saya, memiliki rumah seringkali terasa seperti misi mustahil jika hanya mengandalkan gaji bulanan tanpa bantuan pinjaman bank. Namun, bayangan terjebak cicilan hingga rambut memutih membuat saya berpikir dua kali. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil jalan pintas yang cerdas: membangun hunian sendiri secara bertahap, menyesuaikan dengan napas finansial, dan menjauh dari segala bentuk bunga bank yang mencekik.

Salah satu rahasia penghematan saya adalah keberanian untuk tidak selalu menggunakan barang baru. Saya rajin mencari tips bangun rumah ala genz yang menyarankan pemanfaatan material reclaimed atau bekas berkualitas. Saya sering berburu ke tempat bongkaran gedung tua untuk mendapatkan pintu jati atau jendela industrial yang sedang tren dengan harga jauh di bawah harga toko. Material ini tidak hanya ramah di kantong, tapi juga memberikan kesan estetik dan unik yang sangat cocok untuk konten media sosial, tanpa perlu keluar modal jutaan rupiah untuk dekorasi tambahan.

Manajemen tenaga kerja pun saya kelola secara mandiri dengan sentuhan teknologi. Saya tidak menggunakan kontraktor besar, melainkan mencari tukang lokal melalui rekomendasi digital dan mempekerjakan mereka secara borongan per bagian. Saya bertindak sebagai manajer proyek sendiri, memantau progres lewat aplikasi catatan dan hadir di lapangan untuk memastikan setiap sak semen digunakan secara presisi. Dengan pengawasan ketat, saya berhasil menghindari "kebocoran halus" anggaran yang biasanya sering terjadi pada proyek rumah konvensional.

Strategi "investasi fisik" juga menjadi jurus andalan saya dalam menghadapi kenaikan harga bahan bangunan. Setiap kali ada sisa gaji atau bonus proyek sampingan (side hustle), saya tidak menyimpannya dalam bentuk saldo bank yang rentan terpakai untuk belanja konsumtif. Saya langsung membelanjakannya untuk besi beton, semen, atau bata. Menimbun material di lahan sendiri terasa jauh lebih menguntungkan karena harga barang bangunan cenderung naik lebih cepat daripada bunga tabungan.

Saya juga sangat disiplin menerapkan konsep rumah tumbuh yang fungsional. Saya membuang jauh-jauh rasa gengsi untuk memiliki rumah yang langsung mewah dan lengkap. Fokus utama saya adalah menyelesaikan "zona inti" yang terdiri dari studio minimalis dan kamar mandi yang layak. Begitu area ini selesai, saya langsung pindah dan berhenti membayar uang sewa apartemen atau kontrakan. Selisih dana sewa tersebut kemudian saya putar kembali untuk menambah modul ruangan lainnya secara perlahan seiring dengan bertambahnya tabungan.

Menempuh jalur mandiri ini memang menuntut kesabaran ekstra dan mental yang kuat. Ada masanya pembangunan terhenti karena saya harus fokus mengisi kembali pundi-pundi tabungan, namun itu jauh lebih baik daripada tidur dengan rasa cemas memikirkan jatuh tempo cicilan di tanggal satu. Sekarang, rumah itu berdiri sebagai simbol kemerdekaan finansial saya—sebuah hunian yang benar-benar milik saya 100%, lunas sepenuhnya sejak paku pertama ditancapkan.


  • Share

Reviews